Thursday, 17 July 2008

Serial Sundari

Batal Kawin Gara-gara BBM

Ruby Setiadinanti

UDARA panas menyengat kulit, sepanas hatiku yang sedari subuh sudah diganggu oleh dering bunyi HP. Aku berjalan tergesa sambil menyeret tangan Komsatun menuju depan seven eleven.

“Jangan keras-keras dong jalannya Sundari,” protes Komsatun. Maklum di jalan depan CSL dan warung Chandra selalu dipenuhi manusia berjubel bila hari Minggu tiba. Tapi aku tak peduli, masa bodoh dengan mereka. Keinginanku hanya satu, melabrak Sarmila, yang pagi-pagi sudah telpon aku hampir 100 kali. Padahal ini hari Minggu, hari di mana biasanya aku tidur molor sampai siang dan tidak seorang pun boleh mengganggu.

Majikanku pun tidak berani mengganggu. Tapi anehnya, si Sarmila berani-beraninya telpon aku dari pukul 5 sampai pukul 8 dan secara terus menerus tiada henti. Benar-benar menyebalkan.

Sesampainya di depan seven eleven, kepalaku celingukan ke kanan dan ke kiri mencari sosok Sarmila. Sementara Komsatun datang dengan nafas ngos-ngosan. Lalu dia berteriak sambil menunjuk, “Itu Sarmila!”, membuat semua orang yang berdiri di dekat Komsatun menoleh ke arahnya.

Aku terkejut dan kaget melihat keadaan Sarmila. Sungguh kawan, Sarmila benar-benar lain dari biasanya. Padahal sahabatku yang satu ini tidak pernah seperti itu. Dia selalu dandan rapi a la gadis metropolitan. Tapi kali ini, dia duduk ngelesot di depan seven eleven tanpa alas. Rambutnya acak-acakan dan mukanya pucat tanpa polesan make up, serta matanya sembab. Tiba-tiba rasa ibaku muncul. Perasaan mangkel dan jengkelku hilang berganti rasa penasaraan. “ Ada apakah dengan Sarmila,” batinku bergumam.

Dengan perlahan kudekati dia. “ Mila…,” suaraku pelan. Kepalanya mendongak lalu dia berdiri dan menghambur ke pelukanku dengan tangis tersedu. Komsatun yang berdiri di sampingku hanya melongo, sebelum akhirnya dia berucap. “Emangnya kenapa sih, pake acara nangis segala kayak syuting sinetron saja,” ujarnya ngedumel, namun cukup jelas di telingaku. Sementara Sarmila yang juga mendengar ucapan itu segera ambil ancang-ancang hendak melabrak Komsatun. Aku yang mengetahui akan terjadi hal gawat segera bertindak.

“Sudah…jangan diladenin si Komsatun. Sesungguhnya ada apa sih?” tanyaku pelan.

“Aku pusing…pusing…pusing…,” teriaknya histeris lagi.

“Dasar cengeng!” bentak Komsatun lagi.

“Hush…Atun…!” teriakku dengan nada jengkel.

Mata Sarmila yang sembab sudah melotot ke arah Komsatun. Aku segera menarik tangan Sarmila supaya lebih mendekat ke aku.

“Iya, kamu pusing kenapa?” tanyaku lagi.

“Keluargaku di rumah telpon aku terus menerus minta kiriman uang. Katanya semua harga bahan pokok semua naik, semenjak harga BBM naik. Padahal setiap bulan aku sudah mengirimi mereka uang. Tapi selama ini uang yang aku jatahkan buat mereka kurang,” katanya.

“Lalu?” tanyaku.

“Ya iya. Masalahnya gajiku tidak cukup. Kamu tahu sendiri kan untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri saja terkadang masih kembang kempis. Dan selain itu gaji kita juga nggak naik-naik, padahal BBM saja sudah naik,” katanya nyerocos.

“Dan masalah satunya lagi, kamu tahu kan kalo bulan depan kontrak kerjaku habis. Maunya sih aku bekerja di majikan yang sama. Tapi kamu tahu nggak berapa biaya yang harus aku bayarkan untuk agen?” tanyanya.

“Emangnya berapa?” aku balik bertanya.

“Dua ribu,” jawabnya singkat.

“Hah… kok bisa?” teriak Komsatun yang sedari tadi jadi pendengar setia.

“Kan seharusnya kamu cuma bayar 10% dari gaji kamu, seperti isi dalam draft kemarin?” cerocosnya.

“Iya sih, tapi majikanku keberatan. Soalnya dia juga membelikan tiket aku untuk pulang ke Indonesia dan balik lagi ke Hong Kong. Terus ditambah lagi harus bayar banyak ke agen. Makanya dia mintanya paruhan sama aku,” jelas Sarmila dengan wajah memelas.

“Lha itu kan sudah menjadi kewajiban para majikan untuk membayar segitu. Terus kamu tidak minta agen untuk menjelaskan hal itu ke majikanmu?” tanyaku.

“Agen nggak mau tahu, katanya semua terserah ke aku. Aku mau atau nggak bayar segitu,” ungkap Sarmila.
“Lalu kamu mau?” desak Komsatun.

“Tidak. Aku sudah lapor ke KJRI tapi katanya mereka tidak bisa menindaklanjuti, karena kurang adanya bukti,” jawabnya lagi.

“Wah payah nih…,” ucapku. Lalu aku terdiam sesaat. Namun Komsatun tiba-tiba nyeletuk.

“Sundari kamu kan punya teman yang bisa nulis di JangkaR, kamu minta tolong dong, supaya masalah ini ditulis dan diketahui semua orang.”

Mendengar ucapan Komsatun, aku cuma diam. Sebelum akhirnya aku menjentikkan jari telunjukku, sambil berucap, “Ide yang bagus.” Kulihat Sarmila juga tersenyum.

Namun belum usai senyum simpulnya, Sarmila dikagetkan oleh bunyi SMS masuk ke HP-nya. Setelah membaca SMS, kulihat mata Sarmila berkaca-kaca hendak menangis kembali. Karena terdorong rasa penasaran, segera kuserobot HP yang digenggam Sarmila, dan segera kubaca SMS yang berbunyi, “ Sarmila sygku, dng trpksa mas mmbrthukan bhw prnkhan kt ditnda. Krn sma hrg kbthn mhl.Jd tbngn mas msh krg & blm ckp.Love u”

Sarmila pun pingsan di tempat, meninggalkanku dalam keadaan linglung bersama Komsatun.


0 comments: