Showing posts with label JANGKAR. Show all posts
Showing posts with label JANGKAR. Show all posts

Monday, 27 October 2008

Buletin 'JANGKAR' Edisi 8. Oktober 2008



Read More......

Tuesday, 30 September 2008

Editorial JangkaR

Selamat Idul Fitri

SUATU ketika di bulan suci Ramadhan, perempuan-perempuan bersuami yang sedang tinggal di penampungan calon buruh migran (seorang BMI pernah menyebut tempat ini sebagai “penjara mahal”), setelah meninggalkan sejumlah uang sebagai jaminan, wajib menelan pil anti hamil yang diberikan oleh pihak Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di mana mereka masing-masing sedang ditampung, untuk bisa merayakan Idul Fitri bersama anak dan suami mereka.
Perempuan-perempuan komoditas PJTKI ini dilarang hamil, dilarang “unfit'” .


Mengandung, sebuah kodrat anugrah Allah SWT, bagi para penyalur tenaga kerja dimasukkan dalam kategori “tidak sehat”. Perempuan-perempuan ciptaaan Allah yang Maha Besar ini sedang dibanting martabatnya di bulan suci. Namun pemerintah tidak pernah berbuat apa-apa karenanya.

Di bulan suci ini pula, beberapa hari lalu, 21 perempuan meninggal dunia karena terinjak-injak saat berebut zakat. Nilai zakat itu, bila dibandingkan dengan harga sepotong roti isi daging di warung siap saji di Hong Kong, bahkan tidak cukup, hanya Rp 20.000 saja. Membaca beritanya di koran, sebagai perempuan yang berumah di negeri yang sama, kita sekali lagi disentak dan mengelus dada.

Ada kejut, ada getir, ada rasa perih, ada sakit. Ada sekilas seperti kita sedang melihat, kita, perempuan buruh migran Indonesia, bisa saja menjadi salah satu yang terinjak-injak itu. Bulan ini, seperti beberapa tahun yang lalu, ada banyak soal tentang kita yang harus kita sendiri yang membuatnya lebih baik.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, mohon maaf lahir dan batin.

Read More......

News

Sholat Ied digelar di Victoria Park dan Tai Po
Tak Semua BMI Bisa Ikuti Sholat Ied

Etik Juwita

SHOLAT Idul Fitri tahun ini akan kembali digelar di lapangan rumput Victoria Park, Causeway Bay, seperti tahun lalu. Tapi untuk tahun ini, selain di Victoria Park, sholat juga akan digelar di Tai Po. Hal ini disampaikan oleh Konsul Penerangan di KJRI Hong Kong, Nugroho Y.Aribhimo, ketika dihubungi JangkaR, Jumat (26/9).

Sholat akan digelar Rabu (1/10) jam 9 pagi. Kepastian jadwal ini, menurut Nugroho, juga baru dipastikan pada Jumat (26/9) dan langsung diumumkan melalui SMS serta iklan yang di pasang di tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh orang Indonesia, seperti di warung-warung Indonesia.

Dalam rilis yang diterima JangkaR disebutkan bahwa pelaksanaan sholat yang dikhususkan untuk komunitas masyarakat Indonesia di Hong Kong itu diperkirakan akan diikuti oleh 20. 000 orang, mengingat tanggal 1 Oktober adalah hari libur nasional di Hong Kong.  Di Causeway Bay, sholat akan dilaksanakan di lapangan rumput Victoria Park. Sementara di Tai Po akan dilakukan di Tin Hau Temple, Fung Shui Square, Ting Kok Road.

Sementara itu beberapa buruh migran Indonesia (BMI) yang dihubungi JangkaR menyatakan pernyataan yang beragam mengenai pelaksanaan sholat Idul Fitri ini. Siti Asiyah, BMI yang bekerja di Shau Kei Wan mengungkapkan kegembiraannya karena selama lima tahun ia bekerja di Hong Kong, baru tahun ini ia bisa mengikuti sholat berjamah Idul Fitri, "Saya memaksa minta izin libur. Biasanya kalau tidak jatah libur yang sebulan dua kali saya terima itu, libur begini selalu tidak dikasih," ujarnya. 

Sedangkan Eni, BMI yang bekerja di Lam Tin mengatakan kalau sholat Idul Fitri itu hanya sunnah, dan tidak wajib. "Kalau dikasih libur ya saya shalat Ied, kalau tidak ya tidak apa-apa. Yang penting puasanya tidak batal. Saya belum minta libur sih, cuma biasanya kalau tidak hari Minggu majikan tidak mengizinkan," katanya.

Berbeda dengan Siti dan Eni, Yeni yang bekerja selama setahun di rumah majikannya di Shau Kei Wan malah mengungkapkan kesedihannya. Yeni mengaku tidak pernah dikasih libur selama bekerja setahun itu. Yeni sudah meminta libur untuk bisa bertemu kawan-kawannya di Hari Raya itu, tapi majikan dan agennya malah memaki-maki dirinya.

Read More......

Thursday, 28 August 2008

Editorial

BMI Belum Merdeka


Kemerdekaan RI sudah 63 tahun lamanya, jika ia seorang manusia tentu usia yang panjang ini telah kenyang memakan asin getir kehidupan, juga manis dan kebahagiaan. Selayaknya, usia sepanjang ini juga merupakan usia yang matang dalam proses memperbaiki kualitas manusia Indonesia. Malangnya, kita (baca Buruh Migran Indonesia), malah hanya kenyang dengan perasaan terjajah.


Setelah beberapa hari lalu nasib kita diguncang oleh aturan pemerintah Hong Kong dengan menaikan upah standar kita hanya HK$ 100 per bulan, lalu ditangguhkannya pemungutan levy pada majikan yang karena desakan dari buruh migran terpaksa dimajukan masa berlakunya dari bulan 1 September menjadi 1 Agustus, lalu turunnya biaya penempatan BMI yang didasarkan pada Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja (Binapenta) Depnakertrans RI no. KEP. 186/PPTK/VII/2008 tertanggal 10 Juli 2008 yang (mengutip dari pemberitaan di SUARA bulan Agustus) masih belum diterapkan pada BMI, ada sebuah perasaan yang tertinggal "Nasib kita sebenarnya hanya ditentukan oleh kertas keputusan".

Seperti melengkapi ketidakberuntungan kita itu, aksi gabungan solidaritas yang sempat ramai di gelar oleh berbagai organisasi BMI di depan Konsulat Jenderal RI (KJRI) seminggu sebelum HUT RI (10/8) itu, juga nampaknya membentur pada gedungnya saja. Pemerintah tetap bersikeras untuk tidak mempermudah mengurus kontrak mandiri, meskipun delam situasi sulit karena berubahnya aturan levy yang dilakukan oleh pemerintah Hong Kong.

Faktanya, meskipun KJRI telah mengatakan pada agency BMI untuk tidak memungut biaya apa pun dari BMI, tetapi pada praktiknya, sebagai BMI kita tentu paham, majikan bisa saja mengancam untuk tidak memperkerjakan kita dengan alasan ia harus membayar biaya agen yang besar. Ujung-ujungnya, kita juga yang terpaksa bernegosiasi dengan majikan dan bersedia membayar biaya-biaya itu hanya agar kita tidak jadi salah satu dari sekian juta WNI tak berpekerjaan. Di atas kertas, uang yang kita bayarkan itu kemudian dinamai uang majikan…

Di usia RI ke-63, dengan sedih kita mesti menyaksikan bahwa BMI masih jauh dari merdeka. Masih jauh jalan yang mesti ditempuh untuk membuat BMI dihargai sebagai manusia dan bukan sekadar komoditas barang dagangan. ***

Read More......

Monday, 21 July 2008

JangkaR, Vol.I, Edisi 5, JULI 2008






Read More......

Tuesday, 17 June 2008

JANGKAR EDISI 4, Juni 2008










Read More......

Monday, 26 May 2008

JANGKAR EDISI 3, MEI 2008

















Read More......

Monday, 21 April 2008

JANGKAR EDISI 2, April 2008






Read More......

Tuesday, 18 March 2008

Buletin 'JANGKAR' edisi Pertama Halaman 4






Read More......

Buletin 'JANGKAR' edisi Pertama Halaman 3







Read More......

Buletin 'JANGKAR' edisi Pertama Halaman 2



Read More......

Buletin 'JANGKAR' edisi perdana Hal. 1




Read More......